Showing posts with label Ilmu Kesehatan Anak. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Kesehatan Anak. Show all posts

STATUS GIZI ANAK


Pengertian Status Gizi
Status berarti tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh suatu keadaan. Jadi status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara masukan gizi di satu pihak dan pengeluaran di pihak lain (Gibson, 1990).
Menurut Bender (2005), status gizi adalah jumlah zat-zat yang ada di dalam badan dan kemampuan zat-zat tersebut mempertahankan integritas metabolik yang normal. Menurut Minarto (2000) status nutrisi adalah suatu kondisi dan keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat gizi lainnya yang dapat diperoleh dari makanan yang dampak fisiknya dapat diukur secara antropometri.

Penilaian Status Gizi
Depkes RI (2000) menyebutkan bahwa standard penilaian status gizi yang digunakan adalah baku antropometri mengikut standard World Health Organization National Center for Health Statistics (WHO-NCHS). Klasifikasi indeks untuk penentuan status gizi yang digunakan adalah
 Klasifikasi Status Gizi Menurut WHO-NCHS
Indeks
Status Gizi
Keterangan
Berat badan menurut umur (BB//U)
·     Gizi lebih
·     Gizi baik
·     Gizi kurang
·     Gizi buruk
·      x > +2SD
·      -2SD ≤ x ≤ +2SD
·      < -2SD ≤ x ≤ -3SD
·      x < -3SD
Tinggi badan menurut umur (TB//U)
·     Normal
·     Pendek (Stunted)
·      -2SD ≤ x ≤ +2SD
·      x < -2SD
Berat badan menurut tinggi badan (BB//TB)
·     Gemuk
·     Normal
·     Kurus (Wasted)
·     Sangat kurus
·      x > +2SD
·      -2SD ≤ x ≤ +2SD
·      < -2SD ≤ x ≤ -3SD
·      x < -3SD
           
Pengukuran antropometri adalah cara penilaian yang paling sederhana dan sering dilakukan. Pengukuran klinik biasanya dilakukan oleh dokter di klinik untuk melihat adanya kelainan-kelainan organ tubuh seperti perubahan warna dan sifat rambut, kelainan kulit dan sebagainya.

 Indikator Status Gizi
Pengukuran antropometri meliputi mid upper arm fat ratio, lebar siku, ration lingkar pinggang panggul, tinggi lutut, perubahan berat badan suprailiac fold, berat badan, lingkar kepala dan triceps skinfold. Indeks antropometri yang sering digunakan adalah Berat Badan menurut umur (BB//U), Tinggi Badan menurut Umur (TB//U) dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB//TB).

Pengertian Gizi Buruk
Penentuan seorang individu termasuk dalam golongan gizi buruk didasarkan pada criteria berat badan terhadap tinggi badan (weight for height). Selain digunakan dalam penentuan status gizi , kriteria berat badan terhadap tinggi badan juga digunakan sebagai acuan untuk menetapkan perlu tidaknya seorang individu untuk menjalani rawat inap dalam rangka pemberian terapi nutrisi khusus dalam penanganan gizi buruk, sekaligus sebagai acuan untuk mengembalikan individu tersebut ke rawat jalan (WHO, 2010).
            Pengertian marasmus adalah keadaan gizi buruk yang ditandai dengan penampakan individu yang sangat kurus, iga gambang, perut cekung, wajah seperti orang tua, dan kulit keriput. Sedangkan kwashiorkor adalah gizi buruk yang ditandai dengan edema seluruh tubuh terutama punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perut buncit, otot mengecil, pandangan sayu, dan rambut tipis/kemerahan. Gambaran klinis yang menggambarkan baik gejala marasmus maupun gejala kwashiorkor juga dapat ditemui dan disebut dengan marasmus-kwashiorkor. Apabila terjadi lebih dari 1% kasus gizi buruk disertai dengan meningkatnya factor risiko (perubahan memburuknya pola konsumsi dan penyakit) di suatu wilayah tertentu maka kondisi tersebut dapat disebut kejadian luar biasa gizi buruk (Depkes RI, 2008).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
a. Faktor langsung
1)         Ketersediaan dan asupan makanan
2)         Infeksi

b. Faktor tidak langsung
1)         Ketahanan pangan keluarga
2)         Pola pengasuhan anak
3)         Akses pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan
4)         Usia dan jenis kelamin anak
5)         Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu
6)         Status sosial dan ekonomi
7)         Kebiasaan makan/pola makan
8)     Jumlah anggota keluarga

IMUNISASI DPT


Untuk imunisasi primer terhadap difteria digunakan toksoid difteria (alum-precipitated toxoid) yang kemudian digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP.

Vaksin DTP
Potensi toksoid difteria dinyatakan dalam jumlah unitflocculate (Lf) Jengan kriteria 1 Lf adalah jumlah toksoid_sesuai dengan 1 unit anti toksin difteria. Kekuatan toksoid difteria yang terdapat dalam kombinasi vaksin DTP saat ini berkisar antara 6,7-25 Lf dalam dosis 0,5ml.
Jadwal
jadwal untuk imunisasi rutin pada anak, dianjurkan pemberian 5 dosis pada usia 2,4,6,15-18 bulan dan usia 5 tahun atau saat masuk sekolah, Dosis ke-4 harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ke-3. Kombinasi toksoid difteria dan tetanus (DT) yang mengandung 10-12 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontra indikasi terhadap pernberian vaksin Pertusis.

Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP
Reaksi lokal kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi terjadi pada separuh (42,9%) penerima DTP.
Proporsi demam ringan dengan reaksi lokal sama dan 2,2% diantaranya dapat mengalami hiperpireksi.
Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan (inconsolable crying).
Dari suatu penelitian ditemukan adanya kejang demam (0,06 %)      sesudah vaksinasi yang dihubungkan dengan demam yang terjadi.
Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalitis akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian Vaksin pertusis.
  
KIPI ringan
Reaksi lokal
Demam > 380C
Iritabel, malaise, gejala sistemik

10-50%
10-50%
25-55%
KIPI berat
Onset interval
Reaksi per dosis
Reaksi per juta dosis
Menangis lama
0-24 jam
1/ 15 –1.000
1.000-60.000
Kejang
0-2 hari
1/ 1750-12.500
80-570
Hipotonik hiporesponsif
0-24 jam
1/ 1000-33.000
30-990
Anafilaksis
0-1 jam
 1/ 50.0000
20
Ensefalopati
0-2 hari
1/ 50.0000
20

Imunisasi BCG


Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium boviti yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberkulin. Masih banyak perbedaan pendapat mengenai sensitivitas terhadap tuberkulin yang terjadi berkaitan dengan imunitas yang terjadi.
Vaksin yang dipakai diIndonesia adalah vaksin BCG buatan PT. Biofarma Bandung. Vaksin BCG berisi suspensi M. bovis hidup yang sudah dilemahkan. Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi mengurangi risiko terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB dan tuberkulosis milier. Vaksin BCG diberikan pada umur <2 bulan, sebaiknya pada anak dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.
Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan. Efek proteksi bervariasi antara 0-80%, berhubungan dengan beberapa faktor yaitu mutu vaksin yang dipakai. lingkungan dengan mycobacterium atipik atau faktor pejamu (umur, keadaan gizi dan lain-lain).
Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk anak, 0,05 ml untuk bayi baru  lahir. Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar mataharif harus disimpan pada suhu 2-8° C, tidak boleh beku. Vaksin yang telah diencerkan harus dipergunakan dalam waktu 8 jam.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksinasi BCG

Penyuntikan BCG secara intradermal akan menimbulkan ulkus local yang superficial 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus tertutup krusta, akan sembuh dalam`2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul lebih besar, namun apabiIa penyuntikan terlalu dalam maka parut yang terjadi tertarik ke dalam (retracted).

Limfadenitis
Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher. kadang-kadang dijumpai setelah penyuntikan BCG. Hal ini tergantung pada umur anak, dosis, dan galur (strain) yang dipakai. Limfadenitis akan sembuh sendiri, jadi tidak perlu diobati. Apabila limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula maka dapat dibersihkan (dilakukan drainage) dan diberikan obat anti tuberkulosis oral. pemberian obat anti tuberku!osis sistemik tidak efektif.

BCG-itis diseminasi
BCG-itis diseminasi jarang terjadi, seringkali berhubungan dengan imunodefisiensi berat. Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum, iritis, lupus vulgairis dan osteomielitis. Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi obat anti tubcrkulosis.

Kontra indikasi BCG :
  • Reaksi uji tuberkulin > 5 mm
  • Menderita HIV, imunokompromais akibat tx steroid jangka panjang, obat imunosupresif, mendapat tx radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang / limfe
  • Gizi buruk, menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang luas, kehamilan.
     Pada bayi kontak erat penderita TB dg BTA (+) diberikan profilaksis INH dulu. Bila sudah tenang baru diberikan.

Rekomendasi
  • BCG diberikan pada bayi < 2 bulan
  • Pada bayi_yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan lNH profilaksis dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberi BCG.
BCG jangan diberikan pada bayi atau anak dengan imuno defisiensi, misalnya HIV, gizi buruk dan lain-lain.

VAKSINASI


Prinsip yang harus dipegang :
  1. Cara pemberian
  2. Dosis
  3. waktu

BCG
Untuk menanyakan vaksin BCG, dilihat dulu skarnya. Kalo ada skar (+) :
<2th è dipaha kanan ato kiri
>2th è dilengan bagian atas

DPT
Ga mungkin diberikan pada anak yang kejang
Untuk menanyakan vaksin DPT : maka waktu dating sehat kemudian disuntuk trus plg, diberi obat penurun panas.
BCG diberikan pada 1 bln karena agar bayi bias membentuk AB
DT diberikan umur >5th

HEPATITIS B
Suntikan pada 0, 1, 6 bln ato 0, 1, 3 bln
Untuk depkes : 0, 1, 2, 4, 6 bln è 0, 1 diberikan dengan unijek dan 2, 4, 6 diberikan dengan combo DPT

POLIO
Diberikan 2 tetes saat akan pulang (setelah dilahirkan). Alasannya agar kuman dalam vaksin yg keluar melalui feces tidak menyerang bayi lain yg mungkin sedang dalam perawatan.

CAMPAK (Timbul rash)
Apabila 9bln disuntik, kadang2x bias demam dan timbul kemerahan. Kalo ± 3hr timbul reaksi merah2x maka tidak apa2x. ini merupakan reaksi dari vaksinnya tersebut.

PERINATOLOGI



A.  ANTE NATAL CARE
Menurut Depkes minimal 4x kunjungan
T1 = 1x untuk memastikan kehamilan
T2 = min 1x untuk memantau perkembangan janin, suntik TT (1x)
T3 = min 2x, suntik TT ke-2 dan u/ prognosa kelahiran.
Bila pengantin baru "tokcer" 1 bulan langsung jadi, maka <1thn dah punya anak, so TT hanya 1x

B.  ASFIKSI
Hipoksi pada waktu bayi maka akan mengakibatkan perkembangan dan pertumbuhan bayi berkurang. Kalo terlalu banyak diberi O2 maka bias sebabkan retinopati
Kalo mo menolong, diberi O2 10liter melalui bagging

C.   BBL
Ø Bayi Normal 2500 - 4000gr
Bayi BBLR < 2500 gr
Bayi BBLSR <1500 gr
Bayi BBLASR <1000 gr
Bayi makrosomia ≥ 4000 gr
Ø Masa Gestasi
Prematuritas murni
ü BBLR, BKB (bayi <8 bln), SMK (sesuai masa kehamilan)
Dismaturitas
ü BCB (aterm) : KMK dan BMK
ü BKB (preterm) :
ü BLB (postterm)
Bayi cukup bulan Hb max 20 gr%, bayi premature Hb max 16,4 gr%
  
D.  TUMBUH KEMBANG
Ø Dimulai dari sel telur dibuahi (saat konsepsi) sampai berakhirnya masa remaja
Ø Dipantau dengan KMS (Kartu menuju sehat) atau KKA (kartu kembang anak)
Ø Tumbuh  : peningkatan ukuran tubuh ato bagian tubuh karena multiplikasi sel-sel dan bertambahnya zat interseluler
ü Aspek kwantitas/fisik
ü Diukur dalam cm/inchi, kg/pound => antopometri
ü anak
Ø Kembang : peningkatan keterampilan dan fungsi yang kompleks (aturasi fungsi)
ü Aspek kualitas/psikosoria/intelektual-emosional
ü Monitor : Bahasa, mental, kecerdasan, motorik kasar(brangkang, lari, loncat), motorik halus
ü 3 perkembangan penting : 1. motorik kasar
 2. motorik halus
 3. bahasa : agak bodoh, penting untuk otak
ü Anak2x duduk dan berdiri tanpa bantuan umur 9 bln
ü Klo berjalan paling lama ± 15 bln
ü  
Ø LLA (Lingkar Lengan Atas)
ü  Tidak bermakna jika pada kasus apa?
=> anak gizi buruk, SN (oedem), tumor abdomen ex. BB; 20kg, 5 th, tumor 7kg LLA: x-tumor
Ø KMS
Fungsinya :   u/ menilai pertumbuhan
                      u/ nilai perkembangan
                      imunisasi                  
Ø RM
Ø GIZI BURUK
Formula 100 dan 75
Berat bayi 6 bln: 2x BBL
Bayi diberi makanan padat umur 6 bln
3 fase pemberian gizi buruk :
ü  Fase stabilisasi, ± 2 mingg, mulai ±75
Prinsip : distabilkan dulu kondisi anak
Penyulit ex. TB diobati dulu TBnya, dimulai dari dosis terendah.
Pantau hiperglikemi, hipotermi
ü  Fase transisional 1mingg / 10hr
Fase Pemulihan